English Version

Press Release

 

Saksikan 250 Peserta dari 15 Negara di Pameran Teknologi & Permesinan untuk Industri Pertanian dan Kelapa Sawit Bersekala International Terbesar di Indonesia

( Traktor & Truk, Peralatan & Mesin Pertanian/ Kehutaan, Teknologi Pengelolahan Kelapa Sawit, Kimia Agro ( Pestisida & Pupuk ) )

25 – 27 Agustus 2016, JIExpo Jakarta-Indonesia

Held Conjunction:

INAPALM ASIA 2016 –  The 4th Indonesia International Palm Oil Machinery, Processing & Technology Exhibition 2016

INAGRITECH 2016 – The 4th Indonesia International Agricultural Machinery, Technology & Services Exhibition 2016

INAGRICHEM 2016 – The 2nd Indonesia International Agricultural Chemicals, Fertilizer & Pesticide Technology Exhibition 2016

INAFORESTECH 2016 – The Indonesia International Forestry Machinery, Equipment & Services Exhibition 2016

 

 

PERANAN PAMERAN INAPALM ASIA 2016, INAGRITECH 2016, INAGRICHEM 2016 DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS INDUSTRI KELAPA SAWIT SERTA MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

 

JAKARTA – Dinamika perkembangan ekonomi global akhir-akhir ini memberikan sinyal akan pentingnya meningkatankan daya saing, di tingkat regional, Indonesia dihadapkan dengan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Situasi ini dapat pula dimaknai sebagai harapan akan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara.

Di tengah-tengah liberalisasi dan pasar bebas, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi dalam negeri, khususnya di sektor pertanian. Karna Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas daratan mencapai 1.922.570 km2 dan luas perairan mencapai 3.257.483 km2. Luasan daerah yang memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan sangat potensial pengembangan sektor pertanian. Pada periode 2010 – 2016, sektor pertanian telah menyumbang 10,19% produk domestik bruto (PDB) dengan angka pertumbuhan sekitar 3,90%. Hal initurut mendorong investai di bidang pertanian. Penanaman (PMA) tumbuh rata – rata 4,2% dan 18,9% per tahun.

Indonesia sejatinya memiliki potensi yang sangat besar dibandingkan dengan Thailand, Vietnam, Filipina dan negara-negara besar di Eropa. Faktanya, Thailand yang luas lahan pertaniannya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia, mampu memaksimalkan hasil pertaniannya hingga 50 kali lipat lebih besar dibandingkan pertanian di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tingginya teknologi industri pertanian, didukung oleh mesin canggih untuk pertanian dan subsidi pemerintah yang lebih tinggi. Maka tidak heran jika pertanian di Thailand memiliki produktifitas lebih tinggi sehingga dapat melakukan 1-5 kali panen padi dalam setahun. Sedangkan Indonesia hanya mampu 1-2 kali panen dalam setahun, bahkan selalu mengalami polemik perairan, minimnya teknologi pertanian dan mesin pertanian yang tidak memadai.

Edukasi dalam pertanian merupakan aspek terpenting untuk membuka cakrawala para petani. Proses edukasi yang tinggi juga harus dilakukan secara berkala oleh pemerintah. Karena sangat mendorong produktifitas lahan yang tinggi, pasalnya, negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa mampu menggarap lahan yang luasnya 10 ha hanya dengan menggunakan 10 mesin pertanian dan 1 operator mesin dan dapat diselesaikan dengan waktu yang sangat singkat. Pengelolaan lahan pertanian di Indonesia memang sudah menggunakan traktor tangan, namun populasi traktor tangan dibandingkan dengan jumlah petani satu tarktor tangan harus melayani lebih dari 400 petani atau lebih dari 100 ha lahan sawah permusim tanam.  Artinya, masih banyak lahan yang digarap dengan menggunakan tenaga hewan atau bahkan manusia. Bandingkan dengan negara-negara tetangga kita bahkan Vietnam yang baru bergeliat, angkanya jauh lebih baik dari kita.

Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, mekanisasi di sektor pertanian sangat dibutuhkan. Pasalnya, produktifitas lahan dan penanganan pascapanen dapat diproses secara maksimal. Rata-rata teknologi alsintan yang digunakan masih sederhana. Alsintan di Indonesia hanya mencapai 23,931 unit per 2015. Jika ingin mencapai peningkatan produksi 6-20%, semua teknologi harus diterapkan dengan metode dan cara yang benar, selain itu, diikuti pengelolaan tanah dengan mekanisasi alat pertanian, irigasi yang teratur, pemilihan bibit unggul, pemupukan, dan pemberantasan hama serta penyakit tanaman. Teknologi pertanian pun harus lebih terjangkau. Karena itu, pemerintah harus ikut campur tangan agar perkembangan teknologi pertanian bisa dimengerti dan dijangkau kantong petani di Indonesia.

Animo masyarakat kelas menengah terhadap sektor pertanian kian meningkat, maka kebutuhan akan lahan pertanian semakin tinggi. Begitu pun dengan kebutuhan pupuk baik organik maupun non-organik di Indonesia terus mengalami peningkatan, seiring dengan meningkatnya permintaan dari sektor perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, kapas, tembakau, jagung, dan padi. Tidak heran jika dalam beberapa tahun ini banyak pelaku bisnis pertanian bersitegang dengan pelaku bisnis lainnya sehingga mengakibatkan hasil panen kelapa sawit menurun 50% yang disebabkan oleh pembakaran hutan sehingga mengurangi kualitas minyak kelapa sawit.

Di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah menggalakkan program mekanisasi pertanian, ekstensifikasi lahan pertanian , divertifikasi pertanian , dll. Melalui program ini pemerintah mampu menangani polemik di sektor pertanian nasional. Latar belakang negara ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional didasari oleh luas lahan dan produktivitas pertanian yang masif. Melalui proses ekstensifikasi lahan pertanian, produktivitas pertanian tidak lagi bertumpu pada di daerah tertentu melainkan di semua daerah. 

Namun, lima tahun terakhir, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional semakin nyata. Selama periode 2010-2016 (awal), rata-rata kontribusi sektor pertanian terhadap PDB mencapai 10,29% dengan pertumbuhan sekitar 3,90%. Sehingga investasi di sektor pertanian/agraria baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4,2% dan 18,6% per tahun. Diperkirakan total investasi di sektor pertanian mencapai 400 trilyun rupiah di tahun 2015. Investasi sektor pertanian terbesar berasal dari swadaya petani dalam bentuk prasarana lahan serta sarana pendukungnya. Sedangkan investasi pemerintah melalui APBN dan APBD yang diperkirakan hanya sekitar 4% dari total investasi di sektor pertanian.

“Lahan pertanian di Indonesia sangatlah luas, ini yang menjadikan Indonesia sangat berpotensi untuk meningkatkan ekonomi nasional dengan cepat. Maka salah satu caranya menerapkan mekanisasi pertanian untuk produktifitas yang lebih tinggi. Dibandingkan negara-negara di Amerika dan Eropa, yang sampai hari ini tetap menggunakan tenaga mesin berteknologi tinggi pada sektor pertanian, ini yang menjadikan mereka sangat produktif dan efisien.” Ujar Baki Lee, Direktur PT. Global Expo Management (GEM Indonesia).

Melihat potensi sektor pertanian di Indonesia, maka INAPALM ASIA 2016 harapannya dapat meningkatkan produktifitas pertanian di Indonesia yang dihadiri oleh pihak pemerintahan, pelaku bisnis pertanian, mesin pertanian, pupuk dan mesin kelapa sawit. INAPALM ASIA 2016 akan diselenggarakan bersamaan dengan INAGRITECH 2016, INAGRICHEM 2016 dan INAFORESTECH 2016 pada tanggal 25-27 Agustus 2016 di JIExpo Kemayoran, Jakarta – Indonesia.

INAPALM ASIA 2016 merupakan pameran alat mesin dan teknologi kelapa sawit berskala international. Pameran ini juga didukung oleh beberapa institusi pemerintahan dan asosiasi, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Industri Alat Berat Indonesia (HINABI).

INAGRITECH 2016 merupakan pameran dagang paling potensial untuk sektor industri alat mesin pertanian serta diyakini bahwa pameran ini mempertemukan pelaku bisnis alat mesin pertanian, buyer dan investor asing maupun dalam negeri.

Keberhasilan gemilang INAPALM ASIA 2015 yang diselenggarakan bersama dengan INAGRICHEM 2015 dan INAGRITECH 2015 menarik 135 exhibitors dari 9 negara dan 6,978 pengunjung dari 12 negara, telah membuktikan sebagai pameran dagang paling berpengaruh di ASEAN untuk alat, mesin, teknologi pertanian, pupuk dan pestisida.

 

Santi Hong
Project Manager of Agricultural & Marine Exhibition

PT. Global Expo Management (GEM Indonesia)
Telp  : +62 – 21 – 5435 8118,
Fax    : +62 – 21 – 5435 8119
Email : info@gem-indonesia.com

Download Press Release

 

 

Your browser is out of date. It has security vulnerabilities and may not display all features on this site and other sites.

Please update your browser using one of modern browsers (Google Chrome, Opera, Firefox, Internet Explorer).

X